Karyakepri.com
Editor's Picks Ekbis Nasional

Singapura-Korsel Resesi, RI Gimana?

Foto: Arie Pratama

KARYAKEPRI.COM – Resesi kini jadi topik hangat global. Sejumlah negara mengonfirmasi resesi, karena melemahnya aktivitas ekonomi dua kuartal berturut-turu karena dampak Covid-19.

Setelah Singapura, Korea Selatan terkonfirmasi masuk jurang resesi. Dikutip dari Trading Economics, PDB secara kuartalan pada kuartal-II 2020 turun 3,3% sementara di kuartal-I, ekonomi turun 1,3%.

Ekonomi terbesar keempat di dunia ini memasuki resesi teknis dengan kontraksi terburuk sejak 1998. Ekspor barang dan jasa di mana ekonomi yang bergantung, anjlok 16,6%, terburuk sejak kuartal terakhir 1963.

Sementara secara tahunan, PDB negara ini di kuartal-II minus 2,9% dari periode yang sama tahun lalu. Namun YoY, ekonomi masih tumbuh di kuartal-I 1,4%.

Lalu bagaimana dengan RI? Akankah juga resesi?

BI

Bank Indonesia (BI) telah melihat proyeksi perekonomian Indonesia akan mencatatkan pertumbuhan negatif pada kuartal II-2020. Dan kemungkinan besar juga pertumbuhan negatif ini tetap lanjut pada kuartal III-2020.

Dengan ramalan ini artinya RI akan masuk jurang resesi. Sebab, jika secara teorinya jika perekonomian tumbuh negatif selama dua kuartal berturut-turut maka dinyatakan resesi.

“Forecast-forecast termasuk BI bahwa kuartal II pertumbuhan ekonomi akan negatif. Pertumbuhan di triwulan III (juga) dari BI kami perkirakan kemungkinan masih negatif,” ujar Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung.

Ramalan BI ini bukan tanpa sebab. Apalagi sejak diserang pandemi Covid-19, perekonomian dunia memang tertekan termasuk Indonesia.

Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang sisi kemanusiaan dan kesehatan tapi juga perekonomian. Dimana, korporasi hingga UMKM ikut terpukul sehingga sektor pendorong perekonomian yakni konsumsi rumah tangga ikut terdampak.

“Kalau kita lihat, kami monitor terus kondisi korporasi dan rumah tangga. Kalau dilihat data-data terakhir, menunjukkan pertumbuhan penjualan korporasi sudah negatif,” jelasnya.

Kemenkeu

Kemungkinan resesi diungkapkan juga oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu. Ada kemungkinan PDB di kuartal III juga negatif.

Ia mengaku pemerintah saat ini sedang bekerja keras agar pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 tidak terkontraksi seperti proyeksi pada kuartal II yang kemungkinan pertumbuhan ekonominya akan minus 2% sampai 4,3%.

“Saat ini kita masih punya peluang tidak masuk resesi. Kalaupun resesi, harapannya tidak terlalu dalam berada 0% atau mungkin sedikit di bawah 0%,” jelas Febrio dalam konferensi pers virtual.

Salah satu kerja keras yang akan dilakukan pemerintah, kata Febrio adalah dengan percepatan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat, yang ada di dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Misalnya saja, kata Febrio untuk program jaring pengaman sosial, mulai dari program keluarga harapan (PKH), diskon listrik, dan sebagainya. Di mana kata Febrio penyalurannya sudah sesuai dengan yang direncanakan.

“Sudah sangat on track untuk jaring pengaman sosial yang sebesar Rp 203 triliun, dan itu perforamnya [penyerapan] sudah sekitar 45%. Diharapkan ini bisa sustain konsumsi bagi masyarakat yang rentan,” tuturnya.

INDEF

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan Indonesia masuk ke zona resesi.

“Hasil kalkulasi INDEF menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh negatif di triwulan II dan memasuki zona resesi di triwulan III 2020. Pada triwulan II 2020 ekonomi diproyeksi tumbuh negatif di kisaran -3,26 persen (skenario sedang) hingga -3,88 persen (skenario berat),” tulis lembaga riset independen dan otonom yang berdiri pada Agustus 1995 ini.

INDEF melihat, pada triwulan III-2020, ancaman pertumbuhan ekonomi negatif juga masih membayangi perekonomian Indonesia.

“Hal ini terlihat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berpotensi negatif di kisaran -1,3% (skenario sedang) hingga -1,75% (skenario berat). Waspada dan siap siaga memitigasi kemungkinan resesi ekonomi menjadi pilihan kebijakan yang tidak terelakkan,” tulis INDEF.

(cnbc)