Karyakepri.com
Editor's Picks Karimun

Kisah Wanita Sebatang Kara Menghidupi Enam Anaknya di Karimun

Adea Fitri (Baju Hijau) saat ditemui di Kantor Tali Asih Kementerian Sosial RI di Karimun, Kamis (30/7/2020). (Foto : ricky/karyakepri.com)

KARYAKEPRI.COM, KARIMUN – Kisah pilu harus dijalani Adea Fitri (41) warga Kalibaru Pelipit Kelurahan Sei Lakam Barat Kecamatan Karimun Kabupaten Karimun.

Adea Fitri kini berjuang untuk menghidupi enam anaknya sendirian. Ia memiliki suami, namun saat ini di penjara atas kasus pencabulan terhadap anak tirinya.

Cobaan bertubi- tubi terus menimpa ibu tujuh anak itu, hingga harus kehilangan putri kelimanya berusia 3 tahun akibat sakit paru- paru.

Kondisi kehidupannya jauh dari kata layak. Bahkan, beberapa anaknya juga tidak dapat mengenyam bangku pendidikan lantaran tidak ada biaya.

“Anak saya baru saja meninggal 10 hari yang lalu akibat sakit paru- paru,” kata Adea, Kamis (30/7/2020).

Wanita berusia 41 tahun itu kini hidup dengan memulung untuk dapat menghidupi keenam anaknya yang masih kecil. Penghasilan dari memulung itupun hanya cukup untuk makan sehari-sehari.

Kondisi itu, membuat ia menjadi bingung. Enam orang anaknya harus makan, sementara ia juga tidak tau untuk mengadukan nasibnya kepada siapa.

Bahkan, selama anaknya sakit dan sempat di rawat di rumah sakit. Tidak ada yang memperhatikannya, seperti RT setempat.

“Anak saya paru-paru sudah kena satu bulan setengah di rumah sakit, di situpun tidak ada yang membantu. Padahal saya mengharapkan bantuan dari orang,” katanya dengan berurai air mata.

Beruntung, pihak rumah sakit memberikannya pertolongan dengan mengobati anaknya. Serta ada juga orang rumah sakit yang membantunya dalam mengurus BPJS.

Selama itu juga, dia tidak hanya menjaga anaknya di rumah sakit. Tapi dia juga memikirkan anak-anaknya yang di rumah. Bahkan, untuk mencukupi kebutuhan ia dan anak- anaknya itu, Adea harus meminta-minta kepada orang-orang di sekitarnya.

“Pagi-pagi saya ke sana ke sini meminta bantuan, kawan-kawan, orang dekat rumah, asal dapat untuk makan saja. Ada ngasih 50, saya bagi dua, 25 untuk anak-anak di rumah, 25 saya bawa ke rumah sakit. Saya nggk peduli, mau rumah bocor dan banjir, yang penting anak saya makan,” katanya.

“Cuma kata tolonglah yang saya harus sampaikan ke Karimun ini, perhatikanlah orang yang susah. Yang susah, orang tak punya itu diam bukan karna takut, tapi tidak tau dia mau ke mana arah tujuan untuk mengadu. Biarlah saya yang udah alami ini, tak apa, tapi tolong, tolonglah perhatikan orang itu,” katanya.

Bantuan PKH dari Kementerian Sosial

Kementerian Sosial melalui Program Keluarga Harapan, saat ini telah melakukan pendampingan terhadap keluarga Adea Fitri.

Pendampingan yang dilakukan seperti memberikan psikologis terhadap anak Dea yang menjadi korban pencabulan anlyah tirinya.

Bukan hanya itu, melalui PKH juga melakukan pendataan ulang seperti KK dan KTP dan Surat Mualaf Adea dari KUA untuk mendapatkan bantuan di Baznas Karimun.

“Kita sudah lakukan upaya pendampingan, berikan psikologis pada anaknya, kemudian juga data-datanya,” kata Koordinator PKH Febriana.

Selain untuk membantu sehari-hari seperti makan. Anak-anak Dea juga membutuhkan sekolah, mulai dari seragam, sepatu, buku dan lainnya.

“Saat ini, bantuan dari pusat untuk biaya pendidikan anak-anak Dea telah ada. Hanya saja, itu tidak berlaku untuk selamanya. Selain itu bantuan itu tidak mencukupi untuk kebutuhan lain, sehingga diharapkan adanya bantuan lain,” katanya.

Sementara itu PKH Kemensor, juga bersama dengan P2TP2A, Pendamping ABA Khusus, serta pendamping sosial, akan melakukan pendampingan pada korban serta keluarga.

“Selain ke Psikolog, kita akan juga akan cek kejiwaan. Tapi bukan gila ya, karena psikis dan trauma yang masih dialami korban,” ujarnya.

(ricky)