Karyakepri.com
Editor's Picks Nasional

Usai Pidato Ekonomi Jokowi, Prabowo Jadi Ketum Gerindra Lagi

Foto: Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto meninjau pembangunan peningkatan jaringan reklamasi rawa di Tahai Baru, Kabupaten Pulang Pisau, Kamis (9/7/2020). (Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

KARYAKEPRI.COM – Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto resmi menjadi Ketua Umum sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra untuk periode 2020-2025 berdasarkan keputusan yang diambil dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Hambalang, Jawa Barat pada Sabtu (8/8).

“Dengan mengucap alhamdulillah maka kekosongan partai hanya berlangsung dua menit dan pimpinan kita akan mengetuk palu berarti kita telah memiliki ketua umum dan ketua dewan pembina. Bismillah,” kata Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani selaku pimpinan sidang KLB Gerindra sambil mengetok palu, Sabtu (8/8), dikutip CNN Indonesia.

Baca juga:

Bagaimana Nasib RUU Cipta Kerja? Ini Penjelasan Mahfud Md

Sejak Partai Gerindra berdiri pada 2008, Prabowo Subianto telah ditunjuk menjadi ketua umum beberapa kali. Selama itu pula Gerindra menjadi salah satu partai yang diperhitungkan dalam politik Indonesia.

Jabatan Ketua Umum Partai Gerindra sebenarnya pernah dipercayakan Prabowo kepada Suhardi selama kurang lebih 6 tahun. Hanya saja, jabatan itu kembali ke Prabowo setelah Suhardi meninggal dunia pada 2014.

Bersama Gerindra, Prabowo tiga kali mengikuti pilpres. Pada 2009, ia maju sebagai cawapres bersama Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Kemudian pada 2014 dan 2019, ia maju sebagai capres, namun selalu kalah menghadapi Joko Widodo dalam perebutan kursi RI 1.

Jokowi pidato

Dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Hambalang, ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menyampaikan pidatonya. Hanya saja pidato Jokowi tak berkaitan dengan politik dan kehadiran Gerindra, pun soal kinerja Prabowo dalam kabinet saat ini. Jokowi lebih menekankan pentingnya kepedulian dalam protokol kesehatan dan bagaimana optimisme menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Jokowi menyampaikan optimismenya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bangkit di kuartal ketiga tahun ini menyusul kontraksi PDB yang dicatatkan pada kuartal II-2020.

Kepala Negara mengakui, pandemi Covid-19 telah memporakporandakan ekonomi di hampir semua negara, termasuk Indonesia, akibat kebijakan pembatasan sosial untuk mencegah penularan virus Corona tipe baru.

Krisis yang bermula dari kesehatan ini, tutur Jokowi, turut menjalar ke krisis perekonomian yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi terkontraksi cukup dalam.

Seperti pertumbuhan ekonomi Prancis minus 19%, India minus 18,9%, Inggris minus 17,9%, Uni Eropa terkontraksi 14,4%, Singapura minus 12,6%, Jerman negatif 11,7%, begitu pula dengan Amerika Serikat minus 9,5%, Korea Selatan minus 2,59%.

“215 negara di dunia tengah menghadapi situasi ketidakpastian menghadapi krisis kesehatan yang juga sekaligus krisis ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada satu pun negara yang siap menghadapi krisis seperti ini,” kata Presiden Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menyebut bahwa lembaga dunia seperti Dana Moneter Internasional (IMF), juga memprediksi perekonomian global akan menghadapi krisis keuangan terburuk sejak Depresi Besar 1930.

“Ini situasi yang sedang kita hadapi saat ini, persoalan nyata di depan mata yang tidak mudah, tapi sebagai bangsa pejuang,kita harus mengatasi persoalan kita sendiri, dengan cara kita sendiri, dengan kemampuan kita sendiri untuk mencapai tujuan nasional, bangsa kita, Indonesia,” katanya.

Kepala Negara juga optimistis, sejalan dengan kebijakan pembatasan sosial yang mulai dilonggarkan, perekonomian Indonesia akan mulai bangkit di kuartal ketiga tahun ini. Mafhum saja, sepanjang kuartal kedua, PDB nasional terkontraksi cukup dalam -5,32% secara tahunan.

“Pada kuartal II kita sudah terkontraksi sangat banyak minus yakni 5,32 persen, tapi kita tidak boleh menyerah, kita harus berupaya agar di kuartal III kita bangkit, kita bisa rebound sehingga tidak jatuh ke jurang resesi,” tutur Jokowi.

Oleh sebab itu, dengan jumlah penduduk 260 juta penduduk, menggenjot konsumsi domestik akan menjadi kunci Indonesia keluar dari jurang resesi.

“Jumlah penduduk 260 juta adalah kekuatan besar. Jumlah usia produktif kekuatan produktif negara kita, kita lihat apa saja yang menjadi kekuatan kita,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu lalu mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia atau PDB kuartal II-2020. Seperti sudah prediksi banyak kalangan, ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 terkontraksi, dan itu menjadi kenyataan.

BPS mencatat, ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan II-2019 terkontraksi pertumbuhan 5,32% (y-on-y), ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan sebelumnya terkontraksi pertumbuhan 4,19% (q-to-q), dan ekonomi Indonesia semester I-2020 terhadap semester I-2019 terkontraksi 1,26% (c-to-c).

(cnbc)