Karyakepri.com
Editor's Picks Ekbis Nasional

RI Perlu Genjot Ekspor ke Luar Negara Tujuan Utama, Ini Alasannya

Ilustrasi ekspor dan impor.(SHUTTERSTOCK)

KARYAKEPRI.COM – Diversifikasi ekspor ke luar negara tujuan utama atau ke nontradisional sangat dibutuhkan di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19. Perluasan negara tujuan bisa menjadi peluang mendongkrak kinerja ekspor.

Guru Besar Ekonomi UGM Mudrajad Kuncoro mengatakan bahwa ekspor Indonesia selama ini terkonsentrasi di sejumlah negara terutama China, Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Jepang. Padahal potensi ekspor di negara lainnya masih terbuka lebar.

“China masih yang terbesar sekitar 17%. Pertanyaannya, bagaimana ekspor ke negara non tradisional?” kata Mudrajad dalam diskusi virtual, Rabu (12/8/2020).

Baca juga:

Layanan Telkomsel di Provinsi Kepri 100 Persen Normal

Mudrajad menambahkan, berdasarkan data Kementerian Perdagangan dalam kurun 2019-2020, upaya diversifikasi tujuan ekspor mulai berjalan. Dari data tersebut ekspor tujuan Mongolia mengalami pertumbuhan cukup signifikan, yaitu mencapai 450,29%.

Pertumbuhan ekspor nontradisional lainnya yang juga melonjak cukup signifikan adalah ke Zimbabwe sebesar 353,73%, Afrika Tengah sebesar 315,9%, Sao Tome & Principe 279,4%, dan Bulgaria sebesar 222,27%.

Baca juga:

Polairud Tanjungpinang Bagi Makanan Gratis Kepada Masyarakat

Negara-negara yang sebelumnya tak banyak dilirik ini, justru pertumbuhannya cukup signifikan. Angka ini menunjukkan bahwa pasar di negara-negara kecil memiliki potensi yang cukup besar.

“Jadi, kalau di pasar kecil sebenarnya kita mendominasi, kita bisa menjadi raja di situ,” imbuhnya.

Menurut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dzulfian Syafrian, ada beberapa pemicu yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

“Semenjak 2013 akhir 2014 harga komoditas itu mulai berantakan mulai hancur dan anjlok sehingga ekspor Indonesia juga akhirnya secara nominal juga jatuh walaupun secara kuantitas itu masih cukup bertahan, tapi, karena Indonesia mengalami defisit perdagangan, maka di awal-awal pemerintahan Jokowi itu tidak heran rupiah itu babak belur,” ujar Dzulfian.