Karyakepri.com
Editor's Picks Nasional

Pengamat Ragu Bantuan Rp 600 Ribu Bisa Ngefek ke Ekonomi RI

Foto ilustrasi

KARYAKEPRI.COM, JAKARTA – Pemerintah terus mengupayakan segala cara untuk menjaga daya beli masyarakat atau tingkat konsumsi rumah tangga tidak melemah di tengah pandemi Corona. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan bantuan langsung tunai (BLT).

Program BLT ini masuk pada klaster perlindungan sosial yang dianggarkan sebesar Rp 203,90 triliun. Program ini juga masuk ke dalam pemulihan ekonomi nasional (PEN). Banyak program perlindungan yang sudah dicairkan pemerintah hingga saat ini.

Salah satunya adalah BLT untuk 15,7 juta pegawai yang bergaji di bawah Rp 5 juta per bulan. Pemerintah memberikan BLT sebesar Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan hingga akhit Desember 2020.

Program ini mendapat kritikan dari ekonom senior Faisal Basri. Dia menilai, program yang dapat menjaga daya beli masyarakat di tengah Corona belum mampu memberikan kontribusi pada perekonomian nasional.

Menurut dia, masyarakat yang mendapat bantuan sebesar Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan ini lebih cenderung menyimpannya dibandingkan membelanjakannya. Hal itu dikarenakan pemerintah belum bisa menyelesaikan masalah penyebaran virus yang menjadi faktor utama melemahnya perekonomian nasional.

“Kalau saya lihat, kalau istilahnya kita ini punya akar masalah tapi yang kita selesaikan bukan akar masalah, ini ibaratnya Kemenkeu, BI, OJK, LPS, Kemenlu itu sudah bekerja maksimal namun mereka sebagai pemadam kebakaran, akar masalahnya tidak diselesaikan,” kata Faisal dalam acara Perspektif Indonesia secara virtual, Sabtu (5/9/2020).

Pemerintah sudah mulai mencairkan bantuan Rp 600 ribu kepada 15,7 juta penerima secara bertahap. Sudah ada 2,5 juta peserta yang mulai dicairkan pada gelombang pertama. Program perlindungan sosial ini dianggarkan sekitar Rp 37,7 triliun.

Jika ingin menggerakkan perekonomian nasional, Faisal mengatakan pemerintah harus menyelesaikan permasalahan di sektor kesehatan yang menjadi gerbang awal terjadinya pelemahan ekonomi di dunia.

“Sepanjang pandemi tidak bisa dijinakkan maka kalau masyarakat dikasih uang seperti sekarang, misalnya pekerja yang dapat Rp 600 ribu cenderung di tabung, karena ini tambahan, kalau COVID nya masih liar maka mereka akan nahan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, penanganan Corona juga berkorelasi dengan tingkat kepercayaan investor pada perekonomian suatu negara. Menurut dia, jika negara menangani pandemi Corona dengan baik maka pasar modalnya masih tetap baik, begitu sebaliknya.

Oleh karena itu, Faisal berharap pemerintah menyelesaikan permasalahan di sektor kesehatan sebagai prioritas utama sebelum benar-benar membenahi sektor ekonomi.

“Jadi kemudian juga kita lihat dalam penanganan virus, kita happy di ekonomi, strateginya jelas berlapis malah, bahkan ada rencana koordinasi yang smooth,” ungkapnya.

(dtk)