Karyakepri.com
Editor's Picks Metro

FORPPI Minta Air Bersih Dikelola BUMN dan Harga Harus Lebih Murah dari ATB

Ketua FORPPI Kota Batam, Muhammad Noer.

KARYAKEPRI.COM, BATAM – Kisruh pengelolaan air bersih di Batam jelang masa peralihan mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Forum Pengusaha Pribumi Indonesia.

Seperti diketahui, pengelolaan air bersih di Batam akan berpindah dari PT Adhya Tirta Batam (ATB) dan akan digantikan oleh PT Moya Indonesia untuk jangka waktu 6 (enam) bulan ke depan.

Menyikapi hal tersebut, FORPPI Kota Batam menyampaikan beberapa pandangan terkait pengelolaan air di Batam, sehingga permasalahan ini tak merugikan masyarakat yang notabene pelanggan air bersih.

“Ada tujuh poin yang disampaikan FORPPI menanggapi polemik pengelolaan air di Batam,” kata Ketua FORPPI Kota Batam, Muhammad Noer, Selasa (8/9/2020).

Poin pertama, bahwa air bersih merupakan salah satu sumber penghidupan yang dilindungi oleh negara melalui UU Sumber Daya Air (SDA) sehingga pengelolaannya harus sepenuhnya untuk kepentingan rakyat dengan tarif yang terjangkau dan akses yang mudah bagi semua.

Kedua, bahwa pengelolaan air bersih di daerah harus dilakukan oleh pelaku usaha pribumi terutama badan usaha daerah dengan tetap menjunjung tinggi asas-asas profesionalitas agar amanah UU SDA sebagaimana dimaksud dapat tercapai agar masyarakat Batam khususnya mendapatkan hak pemanfaatan air yang optimal.

“Ketiga, FORPPI Kota Batam mendukung sepenuhnya badan usaha yang nantinya akan mengelola air bersih di Batam dengan memperhatikan dua aspek strategis yaitu tarif yang terjangkau dan akses air bersih yang merata sehingga tidak ada lagi keluhan dari masyarakat Batam yang tidak memperoleh layanan air bersih,” ujarnya.

Keempat, FORPPI Kota Batam mendesak Dewan Kawasan dan BP Batam selaku penguasa sumber air baku untuk melibatkan badan usaha daerah dalam pengelolaan air bersih di Batam dan menolak campur tangan perusahaan asing dalam pengelolaan demi menghindari komersialisasi air bersih yang berpotensi menyebabkan harga jual air menjadi lebih mahal dan tidak kompetitif.

Selanjutnya poin kelima, FORPPI Kota Batam mengingatkan bahwa pengelolaan air bersih dapat dilakukan oleh perusahaan lokal dengan teknologi pengolahan air bersih yang lazim digunakan di seluruh dunia (tidak perlu teknologi tinggi) sehingga harga jual air bersih yang berkualitas tidak harus memberatkan masyarakat pelanggan.

Keenam, FORPPI Kota Batam mengingatkan pemenang pengelolaan air bersih di Batam untuk mengikutsertakan pengusaha lokal dalam pengelolaan air dan mampu memberikan tarif yang lebih murah dari tarif ATB saat ini.

Dan poin terakhir, FORPPI Kota Batam mengingatkan Kepala BP Batam c.q. Anggota Bidang Pengusahaan Bp. Syahril Japarin untuk bersikap transparan dalam proses penunjukkan perusahaan pengelolaan air bersih di Batam, menjunjung tinggi profesionalitas, tanpa ada rekayasa dan agenda tertentu, serta menghormati hak-hak daerah demi tercapainya asas keadilan dan kesetaraan bagi pelaku usaha pribumi untuk ikut serta dalam pengelolaan air bersih di Kota Batam.

(iwan/r)