Karyakepri.com
Editor's Picks Politik

PILKADA KEPRI, SIAPA MENANG?

Oleh: Birgaldo Sinaga

Beberapa hari lalu seorang teman seperjuangan pada Pilkada Kepri 2015, telpon saya. Sudah lama kami tidak jumpa.

Dulu posisi kami dalam tim Ayah Sani sangat sentral. Saya bertanggung jawab membangun narasi kampanye, ia bertanggung jawab sebagai koordinator semua tim lapangan.

Sembari menikmati pecel lele dan kopi hitam, kami ngobrol panjang di bilangan Batam Center. Dari jam 7 malam sampai tengah malam. Seru dan lucu.

“Sudahlah lae, tadinya calon lae itu peringkat ke 3. Sekarang karena lae terjun, jadi bisa posisi ke 2”, ujarnya berapi2.

Teman saya ini terkejut atas dua tulisan saya tentang sosok Cagub Ansar Ahmad. Ia menerima ke dua tulisan itu dari orang lain yang mengirimkan via WA.

Terakhir kami ngopi sekitar bulan Juli. Di pertemuan Juli itu, saya bilang padanya di gawean pilkada Kepri 2020 ini, saya mengambil posisi netral atau tidak berpihak.

Nah, kebetulan ia membaca tulisan saya yang viral berjudul Ansar Bupatipreneur. Ia terkejut. Mengapa saya turun gunung lagi? Ia tidak menyangka saya turun gunung di Pilkada Kepri.

Ia nampak gusar. Menurutnya tulisan saya itu sangat mengganggu tim jagoannya. Narasi positif tulisan itu bisa mengubah persepsi publik secara signifikan. Persepsi publik atas Ansar menjadi sangat positif.

“Bagaimana hitung2annya laeku, kenapa lae bilang Ansar hanya dapat juara 2?”, tanya saya ingin tahu.

“Pokoknya perkiraan saya calon yang lae dukung paling naik ke posisi ke 2”, balasnya dengan argumen ala pokoknya.

Saya tertawa mendengarnya. Saya tahu, tujuannya mengajak saya bertemu memang untuk menghentikan saya agar berhenti mendukung paslon Ansar Marlin.

Untuk apa capek2 berjuang toh akhirnya kalah juga. Buang2 waktu, materi, tenaga dan pikiran saja. Kira2 begitu maksudnya.

“Mari kita hitung2an lae. Begini hitungannya”, ucap saya to the point.

Paslon Sinergi Soerya Iman itu keduanya berasal dari Batam. Artinya modal keduanya berbasis pemilih dari Batam.

Batam memang memiliki jumlah pemilih terbesar dibanding 6 kabupaten lain. Ada sekitar 600 ribu pemilih.

Pada 2015 lalu, di Batam, pemilih yang menggunakan suaranya hanya berkisar 40an persen. Sementara di kabupaten lain hampir 60an persen suara.

Artinya jika di pilkada kali ini, pemilih yang mencoblos berkisar 50 persen, berarti ada 300ribu suara. Sementara total suara dari 6 kabupaten lain bisa mencapai 400ribuan suara.

Paslon Insani, sang petahana Isdianto, basis dukungannya dari Karimun. Ia lahir dan memulai karir sebagai pegawai negeri dari Karimun. Sedangkan wakilnya Suryani punya basis dari Sekupang Batuaji, asal dapilnya saat caleg kemarin.

Paslon ketiga yakni Ansar Marlin atau AMAN punya basis pemilih yang sangat jelas hitungan angkanya.

Ansar Ahmad mantan bupati Bintan baru saja menang pileg DPR RI dengan jumlah suara tertinggi 137ribu suara.

Di tambah Marlin yang punya jejaring teritorial yang solid di Batam. Kloplah paslon ini.

Captive voter dari Paslon Sinergi sangat sulit bertambah. Karena Cawagubnya Iman Sutiawan selain tidak populer juga tidak bisa mendongkrak suara dari etnis Melayu.

Sepak terjangnya sewaktu menjadi Wakil Ketua DPRD Batam tidak terdengar. Ia lebih banyak diam. Tidak nampak jejak digital pembelaannya pada kepentingan rakyat Batam.

Artinya, paslon Sinergi hanya mengandalkan basis suara Cagub Soerya saja. Soerya memang punya basis suara yang tetap.

Sejak Pilkada 2005 berpasangan dengan Nyat Kadir, lalu Pilkada 2010 berpasangan dengan alm Sani dan pilkada 2015 berpasangan dengan Ansar, captive market suara Soerya tetap. Tidak bertambah. Artinya pemilih Soerya ya itu-itu saja.

Bagaimana dengan Paslon Insani?

Basis dukungan Isdianto sebagai petahana juga tidak besar. Ia memang incumbent, tapi sayangnya publik Kepri belum begitu antusias dengan sepak terjangnya.

Selama menjabat gubernur definitif beberapa bulan lalu, tidak tampak terobosan kebijakannya yang cemerlang.

Ia lebih suka hadir di kegiatan seremonial. Kemampuan leadership dan manajerialnya biasa2 saja. Tidak ada yang istimewa dan bernilai lebih.

Paling yang diingat publik ketika Isdianto terkena Covid 19 saat dilantik Jokowi sebagai gubernur definitif di Jakarta. Isdianto tertular Covid 19 dari ajudannya.

Belum lagi jaringannya yang lemah di Batam. Bahkan, tim pendukung garis kerasnya waktu zaman Ayah Sani hampir semua menjauh. Meninggalkannya.

Ia gagal merawat dan menjaga kepercayaan tim pendukungnya yang dulu mati2an mendukungnya. Ia bak kacang lupa akan kulitnya.

Pasangannya Suryani, kader utama PKS juga setali tiga uang dengan Isdianto. Basis pemilihnya sangat terbatas. Sepanjang pilkada provinsi Kepri, siapapun yang diusung PKS pasti keok. Kalah.

Mengapa?

Karena PKS itu partai eksklusif. Tidak terbuka seperti partai nasionalis. Basis pemilih ceruknya sangat kecil. Sulit pemilih dari non muslim mau menerima PKS.

Ini berbeda dengan partai Islam lain seperti PKB. PKB lebih diterima oleh pemilih non muslim karena inklusif dan menghargai keberagaman.

Paslon Ansar Marlin yang paling komplete basis pemilihnya. Ansar waktu Pileg DPR lalu berhasil mendulang suara tertinggi sekitar 137ribu. Di Pilkada Bintan 2010, Ansar menang hampir 90 persen. Sapu bersih.

Ansar punya jejaring tim yang kuat di pulau2. Ia sulit dikalahkan oleh Soerya dan Isdianto untuk basis pemilih dari etnis Melayu. Di Bintan, Karimun, Tj Pinang, Lingga, Natuna dan Anambas suara Ansar akan sulit dikejar.

Mengapa?

Ansar punya darah Melayu yang sangat kental. Ia lahir di Kijang. Memulai karir sebagai ASN di Kab Kepulauan Riau. Pernah menjabat Bupati 2 periode di Bintan.

Ansar sangat mengakar. Membumi. Ia juga sering diminta warga menjadi khatib. Figurnya juga cerdas, gigih, pekerja keras dan visioner.

Pasangannya Marlin meskipun baru masuk politik, tapi 10 tahun mendampingi Walikota Batam Rudi tentu punya pengetahuan dan pemahaman yang cukup.

Jejaringnya kuat. Dalam politik, jejaring teritorial yang kuat lebih efektif dan optimal dibandingkan hanya bermodalkan popularitas semata.

Ini sama seperti Cagub Jatim Khofifah Indarparawansa yang punya jejaring teritorial Fatayat NU di Jatim. Basisnya ibu-ibu majelis taklim Fatayat NU.

Saya pikir, dengan jejaring teritorial yang mirip dan solid seperti jejaring Khofifah, Cawagub Marlin lebih berpeluang mendongkrak suara dibandingkan dengan Cawagub pesaingnya Iman dan Suryani.

“Dengan kata lain, jika dibandingkan apple to apple antara ketiga kandidat cawagub, Marlin berpotensi lebih besar mendongkrak suara”, ujar saya.

“Sudahlah laeku…kehadiran lae di sana hanya menaikkan dari posisi 3 ke posisi 2 saja”, ucap teman saya ngotot tidak mau terima penjelasan saya.

Saya tertawa ngakak. Hampir saja kopi yang saya minum tumpah saking lucunya.

“Ini survey terkini dari LSI laeku”, ujar saya sambil memperlihatkan grafik survey LSI bulan Oktober 2020.

Dari survey LSI tergambar paslon Ansar Marlin mendapat suara sekitar 34.8 persen.

Paslon Sinergi mendapat suara 20.2 persen.

Sedangkan paslon Insani di urutan buncit dengan jumlah suara 17.9 persen.

Sisanya suara swing voter sekitar 27.1 persen. Artinya jika sisa suara swing voter hanya 7 persen suara diperoleh Ansar Marlin. Dan 20 persen disapu bersih Soerya Iman, tetap saja pemenangnya Ansar Marlin.

“Tapi tentu saja tidak mungkin begitu. Paling mungkin sisa suara 27.1 persen itu dibagi merata ketiga paslon. Maka paslon Ansar Marlin akan menang di kisaran 45-50 persen suara”, ujar saya dengan yakin.

“Alahhh laeku…. Percayalah samaku. Pemenangnya bukan jagoan lae. Ku yakin paling peringkat 2 jagoan lae. Itupun karena lae turun membantu. Kalo gak, pasti urutan ke 3”, ujarnya semakin ngotot.

Lagi2 saya tertawa ngakak. Mau gimana lagi. Saya sudah paparkan analisis mendalam kekuatan masing2 kandidat.
Ditambah hasil survey dari lembaga survey kredibel sekelas LSI, tapi tetap saja tidak dianggapnya. Ia punya jurus pokoknya. Pokoknya jagoan saya peringkat ke 2.

Masih ada waktu 45 hari menuju hari pencoblosan 9 Desember 2020. Di sisa-sisa waktu ini, masing2 kandidat masih berpeluang mengubah peta suara.

Berdasar fakta empiris, ketika trend suara calon naik meskipun pelan, sangat sulit untuk bisa menyalib posisi.

“Kecuali ada dentuman raksasa menggelegar seperti yang kita lakukan pada Pilkada Kepri 2015 lalu laeku”, ujar saya sambil menyeruput kopi.

“Pokoknya jagoan lae hanya juara 2. Percaya sama aku lae”, balasnya lagi.

Alamakkkk…krik..krik..krik…

Birgaldo Sinaga