Karyakepri.com
Editor's Picks Metro

Tangan Dingin Ansar

Oleh: Birgaldo Sinaga

KARYAKEPRI.COM, BATAM – Dulu era 80-90an, ada undian lotere SDSB. Di Medan, tetangga dekat rumah saya pernah dapat hadiah 4 angka. Jumlahnya banyak, sekitar puluhan juta rupiah.

Saya ingat betul betapa gegernya kampung kami. Mendadak buruh pabrik perabotan itu kaya raya. Uang puluhan juta tahun 80-an itu besar sekali nilainya.

Sayangnya uang itu difoya-foyakannya. Ia hambur-hamburkan dengan membeli mobil. Membeli barang-barang mewah. Anak-anaknya dibelikan motor.

Sejak dapat lotere, kerjanya ongkang-ongkang kaki. Ia berhenti bekerja dari pabrik perabot. Saban hari makan enak. Minum-minum. Pokoknya, gaya hidupnya bak raja minyak.

Beberapa tahun kemudian, saya mendengar nasibnya berujung tragis. Ia kembali jatuh miskin. Semua miliknya ludes terjual. Keluarganya berantakan. Mobil, motor yang dulu dibanggakannya, dijual karena nunggak hutang. Hidupnya kembali kere. Miskin.

Di tangan orang yang salah, uang sebanyak apapun pasti akan menguap. Habis entah kemana. Tetapi, di tangan orang yang bijak pandai, uang sedikit bisa menjadi bukit. Berlipat kali ganda. Beranak pinak.

Saya ingat, dulu tahun 2000-an, saya iri sekali melihat teman saya asal Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri. Ia asal Natuna, tinggal di Batam. Ia punya organisasi LSM lokal di Natuna. LSM anti korupsi.

Aktifitasnya bolak balik Natuna Batam. Kerjanya senang-senang saja. Kalo duitnya habis, ia balik ke Natuna. Setelah dapat duit, ia kembali ke Batam untuk senang-senang. Begitu kerjanya saban hari.

Tahun 2007, Natuna kaya raya sekali. APBDnya triliunan. Penduduknya cuma 60-an ribu jiwa. APBD-nya mencapai Rp1,3 triliun. Wow luar biasa.

Pendapatan Asli Daerah Natuna waktu itu kecil sekali. Hanya berkisar Rp38 miliar.

Yang bikin mata melotot dana perimbangan berupa Dana Bagi Hasil Migas hampir Rp1,2 triliun.

Natuna dapat dana bagi hasil migas besar sekali. Harga minyak masa itu tinggi sekali. Rezeki nomplok.

Nah, teman saya itu juga ketiban rezeki nomplok. Oleh Bupati Natuna Daeng Rusnadi, orang-orang seperti dia dimanjakan. Uang bertabur tak henti. Asal setor wajah, amplop diterima.

Proyek-proyek mercusuar juga dibangun. Proyek yang cuma menghabiskan anggaran tanpa nilai daya tambah dibangun. Pokonya habiskan anggaran terserah mau bagaimana caranya. Ujungnya, uang APBD gede triliunan itu menguap begitu saja.

Uang itu dihambur-hamburkan dengan membeli kendaraan dinas mewah pejabat2 Natuna. Perjalanan dinas tak jelas ke Jakarta dilakukan suka-suka. Pokoknya uang triliunan itu bak uang lotere rezeki nomplok yang harus dihabiskan masa anggaran berjalan.

Pada 2009, Bupati Daeng dan Wakilnya Hamid diciduk KPK. Mereka terbukti mengembat APBD untuk memperkaya diri sendiri. Puluhan miliar nilainya.

Beberapa tahun lalu, teman saya yang kecipratan duit itu mengeluh. Natuna tidak seperti masa emas 2000-an. Saat uang berlimpah tak berseri, hidupnya senang sekali. Dia mengatakan, untuk bayar gaji pegawai ASN saja sering macet.

Beberapa bulan pegawai ditunda pembayaran gajinya. Ekonomi warga megap-megap. Penggerak ekonomi warga Natuna adalah gaji ASN. Juga pengeluaran pemda Natuna. Banyak orang di sana menjerit tak berdaya.

Sejatinya, daerah yang tidak berproduksi akan sengsara menderita. Produksi ini bisa barang atau jasa. Tanpa ada produksi maka daerah itu akan miskin.

Lingkup terkecil seperti tetangga saya yang dapat lotere waktu di Medan dulu. Ia konsumtif tidak produktif. Walhasil berapapun kekayaan yang dipunyainya habis tak berbekas.

Natuna juga bernasib sama. Kekayaan masa keemasan dana bagi hasil migas itu disia-siakan. Uang yang harusnya bisa menjadi modal produksi itu menguap hilang begitu saja.

Bupatinya mengelola uang tak punya arah. Hanya membeli barang konsumtif. Bukan produktif. Akibatnya uang triliunan itu tak punya manfaat apa-apa bagi produktifitas ekonomi rakyat Natuna.

Hal yang berbeda terjadi dengan Kabupaten Bintan.

APBD Bintan pada 2007 tidak sampai Rp400 miliar. Sepertiga APBD Natuna. Populasi penduduk Bintan dua kali lipat dari Natuna. Kemiskinan penduduk hampir sama. Mata pencaharian warga juga nelayan.

Untunglah Bintan dipimpin seorang bupati yang cakap mengelola keuangan. Bupati Bintan itu Ansar Ahmad. Ia benar-benar ahli ekonomi. Lulusan FE Unri. Ia tahu hulu proses ekonomi itu adalah sistem produksi.

Apa yang dilakukan Ansar dengan duit APBD tak sampai sepertiga APBD Natuna itu?

Sejatinya uang Rp400 miliar itu tak bisa buat apa-apa. Habis untuk belanja pegawai dan insentif guru dan dokter perawat. Jumlah ASN Bintan juga lebih banyak dari Natuna. Hitung punya hitung, duit Rp400 miliar itu tak bisa bangun apa-apa di Bintan.

Dua hari lalu, saya bertemu lagi dengannya. Sembari menikmati Mie Aceh di bilangan Seipanas, saya mendengar pengalaman hidupnya. Saya suka mendengar cerita masa-masa sulit Bintan saat dipimpinnya masa 2005-2015.

Ansar bercerita bagaimana ketatnya ia mengelola anggaran yang seuprit itu. Perjalanan dinas jika tidak begitu penting, ditolaknya. Acara seremonial ditekannya. Uang harus benar-benar produktif. Tidak boleh dihambur-hamburkan.

“Waktu awal menjabat bupati, saya ke Jakarta nginap di hotel biasa. Satu kamar berdua. Naik pesawat kelas ekonomi”, ujar Ansar sambil menggelengkan kepalanya.

Ansar tahu hidup miskin itu sungguh menderita. Kehidupan Ansar yang susah menderita masa kecil dan remaja membentuk karakternya untuk cermat dan hemat menggunakan uang.

Usia 2 tahun, Ansar sudah ditinggal pergi ayahnya. Ia menjadi anak yatim. Sejak SD Ansar sudah pontang panting membantu ibunya mencari uang.

Kadang jualan sayur. Kadang jualan kue. Kadang membantu mencuci mobil. Semua pekerjaan serabutan dilakoninya. Bertahan hidup. Agar bisa sekolah.

Kehidupan yang keras itu membentuk Ansar untuk keras dalam mengelola anggaran. Tidak boleh neko-neko. Ia mengikat dirinya sendiri untuk hidup hemat sederhana.

Bagaimana cara Ansar membangkitkan ekonomi warganya? Menaikkan kesejahteraan warganya?

Disinilah kecerdasan Ansar teruji. Ia tahu kekuatan Bintan itu pantai dan lautnya. Tapi nilai jual pantai itu tidak berarti jika infrastruktur jelek. Bagaimana mungkin turis berkunjung jika infrastruktur masih Zaman Majapahit? Jalanan masih tanah?

Ansar tahu hulu hilir proses produksi ekonomi Bintan. Jika di hulu bagus, maka di hilir juga bagus. Ansar berjuang ke Jakarta.

Ia lobi pejabat pusat agar menggelontorkan anggaran untuk membangun infrastruktur. Jika infrastruktur dibangun, resor-resor dan hotel berkelas dunia akan bermunculan.

Imbal baliknya, devisa dari jasa kunjungan turis akan meningkat. Pajak hotel semakin besar. Negara untung. Ekonomi warga naik. Ada multiflier effect dari aktifitas ekonomi turis.

Apa yang ditanam Ansar 10 tahun lalu berbuah manis. Bintan kini menjadi kota maju berkembang. Kota Bintan tidak lagi kumuh miskin. Warganya mandiri. Punya pekerjaan dan penghasilan.

“Tahu tidak dinda…dulu awal-awal saya menjabat masih banyak warga buang hajat pakai cangkul. Ditanam dalam tanah”, ujar Bang Ansar sambil mneyeruput bandrek susunya.

Saya sedikit terkejut mendengar cerita ini. Betapa susahnya warga Bintan masa itu. Untuk MCK saja kesulitan. Bandrek susu yang saya pesan malam itu semakin dingin jadinya.

Cerita Bang Ansar benar-benar bikin saya geleng-geleng kepala. Kalo era 70-an masih masuk akal. Lha ini era 2000-an masih pake cangkul kalau mau buang hajat. Duhhh…

Kini, kehidupan masyarakat di Bintan sudah berubah. Tidak ada lagi buang hajat pake cangkul. Tidak ada lagi wajah-wjah sayu miskin menderita. Sementara di Natuna yang dulu kaya raya, tidak nampak kemajuan. Dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja.

Perputaran ekonomi di Natuna masih mengharapkan gaji ASN. Hampir tidak ada produksi di sana. Andai uang triliunan dulu dipakai membangun sektor perikanan dan turunannya, saya yakin Natuna bisa hebat.

Bintan dan Natuna jadi contoh nyata. Kekayaan daerah jika dipegang oleh orang yang salah, akan menyengsarakan.

Tetapi sekalipun daerah itu sulit keuangannya, jika dipegang oleh orang yang cakap, daerah itu akan maju produktif.

Bintan yang dulu miskin, kini maju sejahtera. Dan itu karena kerja keras, kerja cerdas dan tangan dingin Ansar Ahmad.

Makanya rugi banget kalo warga Kepri tak memilih Bang Ansar di Pilgub tanggal 9 Desember 2020 nanti. Rugi banget bro. ***