Karyakepri.com
Editor's Picks Metro

Laskar Melayu Kutuk Pengeroyokan Panwascam Batam Kota

Foto ilustrasi

Karya Kepri, BATAM – Panglima Muda Laskar Melayu Bersatu Kota Batam, Datok Suhendra bin Abd Hamid mengecam aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh oknum massa kampanye pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Kepri nomor urut 1 Soerya Respationo-Iman Sutiawan kepada Ketua Panwascam Batam Kota Salim di Baloi, Kamis (12/11/2020).

Salim dikeroyok setelah melarang agenda tari-tarian di dalam kampanye yang dilakukan pasangan calon kepala daerah Kepri tersebut karena melanggar protokol kesehatan Covid-19.

“Kami mengecam pengeroyokan ini dan meminta pihak kepolisian menindak tegas sampai tuntas,” katanya, Sabtu (14/11/2020).

Menurut dia, aksi premanisme tersebut sangat mengganggu ketertiban dan keamanan Kepri, khususnya Batam dalam menyambut pesta demokrasi pada 9 Desember 2020 mendatang.

“Jadi kami Laskar Melayu Bersatu sebagai pagar negeri bumi Melayu ini menegaskan dan berharap pihak aparat kepolisian juga menindak tegas oknum-oknum yg anarkis seperti itu,” ujarnya.

Sementara itu, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepri mengaku telah mendapat laporan terkait aksi penganiayaan yang disertai pengeroyokan terhadap Ketua Panitia Pengawasan Pemilihan Kecamatan (Panwascam) Batam Kota, Batam, yang tengah bertugas mengawasi kegiatan kampanye Calon Gubernur Kepri.

Dirkrimum Polda Kepri Kombes Pol Arie Darmanto mengatakan, sejauh ini pihaknya masih memintai keterangan korban yang bernama Salim, dan memeriksa beberapa orang saksi pada saat kejadian pemukulan tersebut terjadi.

Berdasarkan laporan, kata Arie, kejadian berawal, saat korban mendatangi kegiatan kampanye dari salah satu paslon Cagub dan cawagub Provinsi Kepri Nomor urut 1 serta Paslon Cawako dan Cawawako Kota Batam Nomor urut 1, di Ruko Center Park Kelurahan Taman Baloi, Kecamatan Batam Kota, Kota Batam, Kepri.

“Acara tersebut adalah peresmian Posko Relawan Sinergi-Luar Biasa (Nias) yang mana kehadiran korban disana sehubungan tugasnya untuk mengawasi tahapan Pilkada 2020 agar tidak terjadi pelanggaran kampanye yang dilakukan oleh Paslon. Kegiatan itu telah dijamin dalam UU PKPU No.13 Tahun 2020,” katanya, Jumat (13/11).

Penganiayaan tersebut terjadi setelah pelapor menghubungi Komisioner Bawaslu Kota Batam dari Divisi Pengawasan dan menanyakan apakah tarian bersama diperbolehkan dalam kegiatan kampanye dengan menyertai bukti rekaman video aksi tarian tersebut.

“Setelah mendapat petunjuk dari Bawaslu yang menyebutkan tarian bersama tidak boleh, maka korban mendatangi Ketua paguyuban dan mengatakan tarian bersama itu tidak dibenarkan dan agar bisa dihentikan karena berpotensi menciptakan kerumunan massa, disitulah penganiayaan terjadi,” ujarnya. (wan)