Karyakepri.com
Daerah Editor's Picks Politik

Bobby Nasution Kritik Banjir di Medan saat Debat, Akhyar Ogah Tanggapi

Bobby Nasution.

Karya Kepri, MEDAN – Cawalkot Medan nomor 2, Bobby Nasution, mengkritik penanganan banjir di Medan kepada lawannya yang juga petahana, Akhyar Nasution, dalam debat terakhir yang berlangsung Sabtu (5/12) sore.

Dalam sesi debat, Bobby menyebut banjir yang merendam ribuan rumah di Medan akibat kegagalan Pemkot Medan berkolaborasi dengan daerah lain.

“Hari ini, bisa kita lihat bencana Kota Medan, Jumat (4/12) sangat menyakitkan kita. Inilah salah satu bentuk kegagalan dari kolaborasi antarkota Medan dan kabupaten/kota yang ada di sekitarnya,” ujar Bobby.

Suami Kahiyang Ayu itu memberikan kritikan saat moderator memberikan pertanyaan soal arti peran penting perencanaan tata ruang kawasan perkotaan Medan, Kota Binjai Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Karo (Mebidangro).

Bobby menilai jika ada koordinasi baik dari Pemkot Medan dengan wilayah penyangga sekitarnya, maka banjir bisa diantisipasi lebih baik. Misalnya, jika banjir merupakan kiriman dari hulu yang berada di Kabupaten Karo, maka bisa dibuka kanal atau saluran lain untuk mengalihkan air banjir.

“Harusnya bisa dibuka (saluran) kanal, apabila dari hulu ini sudah mulai naik. Ini salah satu yang bisa dikoordinasikan atau dikolaborasikan dengan pemerintah Kabupaten Karo,” jelas Bobby.

Begitu juga bisa berkoordinasi dengan Pemkab Deli Serdang untuk tempat pembuangan akhir (TPA) terpadu. Sebab, Bobby menyebut Kota Medan bermasalah karena tak memiliki lahan untuk TPA.

“Jangan dijadikan kerja sama yang tidak pernah menguntungkan atau membawa kesejahteraan dari kabupaten kota lain dan kota Medan sendiri. Namanya kerja sama, ini harus menguntungkan dari kedua belah pihak,” tutur Bobby.

Sementara itu, mendapat serangan soal penanganan banjir dari Bobby, Akhyar memilih tidak menanggapinya. Ia justru menyerahkan jawabannya ke wakilnya, Salman Al-Farisi.

Salman menuturkan, masalah banjir tidak bisa menyalahkan Pemkot Medan saja. Sebab, perlu andil dari pemerintah pusat juga, khususnya Badan Wilayah Sungai (BWS).

“Itu bukan kegagalan Kota Medan (saja), tetapi itu kegagalan kolaborasi pusat dengan provinsi. Dan kolaborasi provinsi dengan Kota Medan. Dan juga menganggap kegagalan kabupaten/kota di sekitar kota Medan,” jawab Salman.

“Kota Medan punya wilayah kerja, begitu juga dengan sungai. Sungai ini wilayah kerja BWS dan ini di bawah pemerintah pusat. Sebab itu, kita berharap, jangan tunjukan kegagalan murni dari Kota Medan saja,” lanjutnya.

Menanggapi jawaban Salman, Bobby menilai semestinya seorang pemimpin harus bisa menjawab persoalan masyarakat seperti banjir yang dihadapi saat ini. Sebab, sebagai pemimpin kota, wali kota harus bisa berkolaborasi dan mengetahui penyebab banjir yang masih terjadi di Medan.

“Hulunya ada di Karo ya. Kerja sama dengan Kabupaten Karo untuk menyelesaikan persoalannya,” ucap dia.

“Begitu juga dengan sampah, kita bertentangan dengan Kabupaten Deli Serdang, lahan kita kurang, kerja sama. Dengan mereka untuk membuat pembuangan akhir terpadu,” imbuhnya.

Sementara wakil Bobby, Aulia Rachman, ikut menambahkan jawaban Bobby. “Kita jangan menyalahkan pusat. Justru kita merapatkan diri dengan pemerintah pusat. Masukkan anggaran ke RPJMD agar sinkron dengan RPJMN, kita butuh pusat,” tutup Aulia. (kum)