Karyakepri.com
Editor's Picks Ekbis

Produksi Baterai Mobil Listrik, RI Bisa Kaya Raya!

Karya Kepri, JAKARTA – Pemerintah terus mendorong hilirisasi mineral, salah satunya nikel, demi mendorong peningkatan nilai tambah dan berdampak pada peningkatan penerimaan negara.

Hilirisasi nikel, baik untuk bijih nikel kadar rendah (limonit) dan nikel kadar tinggi (saprolit), bisa mendorong peningkatan nilai tambah sampai puluhan kali lipat, terutama bila sampai pada produksi sel baterai.

Besarnya sumber daya nikel di Tanah Air sangat sayang bila tidak dimanfaatkan seoptimal mungkin. Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia harus bisa memanfaatkan sumber daya ini untuk menjadi modal hilirisasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM Agus Tjahajana dalam sebuah Webinar ‘Mineral for Energy’, Jumat malam (10/09/2021).

Dalam bahan paparannya, dia menyampaikan ilustrasi bahwa untuk bijih nikel kadar rendah (limonit) bila diproses menjadi nikel sulfat, maka nilai tambahnya menjadi 11,4x. Kemudian, bila diproses lebih lanjut ke precursor, maka nilai tambahnya menjadi 19,4x.

Lalu, jika diproses lagi menjadi katoda, maka nilai tambahnya menjadi 37,5x dan saat diproses menjadi produk yang paling hilir berupa sel baterai, maka nilai tambahnya menjadi 67,7x.

Sementara bijih nikel kadar tinggi (saprolit), setelah diproses menjadi feronikel, maka nilai tambahnya menjadi 4,1x. Lalu jika diproses lagi menjadi nikel sulfat, maka nilai tambahnya menjadi 5,7x.

Selanjutnya, jika diproses menjadi precursor, maka nilai tambahnya menjadi 9,6x, diproses lebih hilir lagi menjadi katoda nilai tambahnya menjadi 18,6x, dan terakhir saat menjadi produk cell (sel baterai), maka nilai tambahnya menjadi 33,6x.

“Peningkatan nilai tambah yang luar biasa, dari nickel ore menjadi nikel sulfat 11x nya, prekursor 20x, katoda 40x, dan cell 70x. Ini kalau limonit kadar rendah,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, sejak disahkannya UU No. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba), maka peningkatan nilai tambah adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh para penambang.

“Kita semua berkewajiban memberikan nilai tambah, gak boleh jual Tanah Air, tapi diolah menjadi sesuatu yang bernilai,” tegasnya.

Seperti diketahui, harga nikel kini juga tengah melonjak, bahkan telah menembus US$ 20.000 per ton, tertinggi sejak 2014.

Pada Senin (13/9/2021) pukul 09:09 WIB, harga nikel tercatat US$ 20.240/ton. Turun 0,83% dibanding harga penutupan akhir pekan lalu.

Koreksi ini cukup wajar melihat harga nikel sudah naik 4,5% pada perdagangan tiga hari terakhir. Pergerakan nikel sendiri masih diselimuti oleh katalis positif dari permintaan EV yang melonjak dan persediaan nikel yang menipis.

Penjualan mobil listrik dunia pada semester-I 2021 sebesar 2,6 juta kendaraan. Meroket 160% year-on-year (yoy) mengutip laporan terbaru Canalys. Penjualan ini diproyeksikan masih terus bertumbuh ke depan. (CNBC)