Karyakepri.com
Batam Berita Pendidikan

Kondisi Memprihatinkan SMA 25 Batam Di Tengah Peringatan Hardiknas

Karyakepri- Saat meninjau lokasi SMA 25 Batam yang berada di Jalan Tanjung Buntung, Kelurahan Tanjung Buntung, Kecamatan Bengkong, Kota Batam, Kepulauan Riau, Jumat (13/05), Anggota Komisi IV DPRD Kepri, Uba Ingan Sigalingging menemukan kondisi sekolah memiliki ruang kelas yang tidak layak.Terlebih, temuan sekolah ini diketahui saat tengah memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

“Parahnya lagi, salah satu ruang kelas bersebelahan dengan toilet untuk siswa dan guru,” ujar Uba Ingan Sigalingging. Setiap kelasnya hanya disekat oleh papan tulis berwarna putih. Tak ada dindingnya yang menjadi penutup ruangan ataupun pembatas setiap ruang. Pihak sekolah hanya memanfaatkan lahan kavling dan dengan konsep seperti foodcourt kemudian diubah menjadi beberapa ruangan kelas.

Pada proses belajar mengajar, para siswa hanya difasilitasi dengan meja dan kursi plastik. Persis seperti di warung makan. “Sudah sama seperti foodcourt aja. Jadi kalau saat belajar mengajar, tentu saja masing-masing kelas sudah saling dengar. Tentu saja siswa tidak konsentrasi,” kata Uba.

Diketahui dari laporan masyarakat yang mengeluhkan sistem belajar mengajar sekolah ini. Para pelapor juga menyebutkan prihatin setiap melihat siswa dan guru yang tengah menjalani sistem belajar mengajar. Keprihatinan ini ditambah dengan kondisi di sekitar sekolah yang masih merupakan tanah gersang.

“Setelah melihat langsung, debu saja kalau angin kencang sudah pasti masuk dan kena siswa yang sedang belajar,” katanya. Uba mengaku, hingga saat ini, Dinas Pendidikan Provini Kepri belum mengusulkan mengenai dana tambahan, dalam progres pembangunan bagi SMAN 25. Dengan demikian, kondisi memprihatinkan yang dialami oleh para siswa SMAN 25, masih harus dialami hingga anggaran di tahun berikutnya.

“Kebetulan saya juga berada di Badan Anggaran DPRD Provinsi. Dan saat ini tidak ada usulan dari Dinas Pendidikan bagi SMAN 25. Intinya kondisi seperti ini masih akan dialami oleh siswa hingga akhir tahun. Itupun kalau di tahun depan mereka usulkan, kalau tidak tentu akan lebih lama lagi siswa merasa seperti ini,” terangnya.

Uba Ingan Sigalingging menilai, Gubernur Kepri saat ini menyangkut pembangunan hanya berupa mercusuar, yaitu pembangunan jembatan Batam-Bintan, pembangunan jembatan layang atau perbaikan jalan. Padahal pembangunan itu tidak sangat mendesak.

“Program-program yang sangat politis harusnya itu dilakukan setelah urusan dasar atau wajib ini selesai, tapi faktanya tidak,” tegasnya.Ia menambahkan, menurutnya Pemprov Kepri menganggap sektor pendidikan bukan sebagai investasi jangka panjang untuk peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). “Kelihatannya Pemprov menganggap pendidikan sebagai beban, padahal itu sebagai investasi untuk pembangunan manusia,” lanjutnya.

editor: dila